STASIUN KERETA PART 3 (LEMBAYUNG SORE)

STASIUN KERETA PART 3 (LEMBAYUNG SORE)


secangkirkopitubruk.com

Sudah lama ingin ku tulis bagian akhir Stasiun Kereta, sudah banyak juga yang menanyakan kelanjutan cerita ini. Tapi mohon maaf, karena baru bisa sekarang cerita ini di post. Mudah-mudahan STASIUN KERETA PART 3 yang juga bagian akhir cerita ini bisa membuat pembaca senang.

Sekarang kami sedang berada di depan sebuah jembatan, jembatan ini memotong aliran sungai cisadane yang seperti kopi mocca, namun tidak menggoda untuk diselami. Entah kenapa rasanya gw gak sanggup melewati jembatan ini.. Sepertinya langit diseberang menghitam, petir menyambar, setan pun tertawa menantang.

Di seberang adalah pintu ancol, dan disana ada Dufan, tempat kebodohan manusia, mereka membayar mahal hanya untuk main ayun-ayunan di kora-kora, dibuat muntah-muntah oleh pontang-panting, meluncur dengan kecepatan tinggi dengan halilintar (padahal di Bogor kita bisa mendapatkannya dengan harga Rp 2500,00 saja, dengan menaiki angkot 03 jurusan Ciapus yang ke arah Curug Nangka. Lebih murah, lebih menantang, lebih memacu adrenalin). Sungguh semua ini adalah kebodohan umat manusia, dan gw (manusia paling jenius) sedang memasuki peradaban bodoh ini…

Kami berdua mulai melangkah dan dengan gemilangnya terdengar ost Mortal Kombat, menambah ketegangan jembatan ancol. Tapi tentu saja dengan gaya yang cool, dengan rasa takut yang gue tutup-tutupi, gue tetap melangkah dengan gagahnya.

Pertama memasuki kawasan dufan kalian akan disuguhi oleh biang lala, hati-hati, benda ini sangat berbahaya, ini hanya tipuan creator dari tempat ini. Dia berharap dengan memasang biang lala di pintu gerbang agar pengunjung tertipu dengan berpikir ‘owww,,tempat ini sangat lucu, bersahabat, cocok sekali untuk tempat main anak-anak.’ Lalu mereka akan membiarkan anak-anaknya bebas bermain dengan wahana-wahana yang ada disana. <jangan dibayangkan!!!!>

“Oh bianglala, keren ayo kita naik!”, Tapi wahana ini sangat cocok untuk menghabiskan waktu.

“kamu yakin?ini sudah jam makan loh?”, Erlin ngajak makan.

“oh tentu, makan dulu lebih baik.”, ternyata ada pilihan yang lebih baik selain bianglala..

^^^^^^^^^^^

“Ayo punk!kita mulai!.”, entah kenapa anak ini terasa bersemangat hari ini, padahal kami baru selesai makan.

“okeh, ayo kita ke biang lala!”, gue gak mau kalah semangat.

“Jauh-jauh amat? Yang itu aja!”, oh damned,, Erlin menunjuk ke perahu raksasa.

“Tapi Lin, makanan belum turun!”

“Ah ayo, kapan lagi kita naik kora-kora bareng nenek-nenek!”, kadang dia memang suka bercanda.

Oh WHAT!!! Ada nenek-nenek di antrian Kora-kora, sumpah, gue gak salah liat! Do you Trust me? It’s wonderfull bad day! Gue harus memuntahkan spagheti seharga Rp 25.000,00 gara-gara seorang nenek! Yes, just ‘nenek’! trust me..

Kami antri tepat di belakang nenek itu, umurnya mungkin sekitar 75 tahun. Sepertinya dia tidak bersama keluarganya. Entah bagaimana caranya nenek berkebaya ini bisa ada di antrian. Mungkin dia teringat sebuah lagu ‘nenek moyangku.. seorang pelaut..’, lalu dia sadar diri kalau dia adalah nenek-nenek dan merasa perahu di depannya adalah limusin yang diparkirkan di dufan untuk menjemputnya.

“nek, permainan ini cukup berbahaya, dapat beresiko serangan jantung.” Petugas mencoba meyakinkan nenek-nenek itu, walaupun sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan penglihatannya.

“gak apa-apa nak, dulu nenek sering menghadapi badai ombak.”, nenek itu benar-benar berada di bawah pengaruh minuman keras.

Nenek itu mendapatkan tempat duduk tepat di hadapan kami. Ekspresinya terlihat sangat jelas. Entah nenek ini tidak mengerti dengan perkataan penjaga tadi atau nenek ini memang berada di bawah pengaruh minuman keras. Tapi wajahnya,,, oh wajahnya,, tanpa ekspresi seperti sedang duduk di kursi goyang. SUMPAH!! Gue khawatir nenek itu sudah pergi ke alam lain! Sedangkan Erlin berteriak girang bersama orang-orang lain. Dan gue pun udah gak peduli dengan keadaan sekitar dan ikut berteriak, “HENTIIIIKAAAAAAAAN IIIINNIIIIIII!!!!”.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Seperti sebuah mimpi buruk, akhirnya gue terbangun dari tidur dengan keringat <yang sebenarnya basah karena arung jeram> dan wajah yang pucat <karena pontang-panting, tornado dan permainan bodoh lainnya>. Sekarang kami berada di puncak tertinggi kawasan dufan—kicir-kicir, kami hanya berdua, menatap indahnya Pantai Ancol dengan langit lembayung sore.

Entah kenapa, di antara kami tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Sepertinya kami saling menyadari keadaan yang terjadi. Permainan yang sedang kami mainkan… ya mungkin kami hanya bermain-main dengan api, yang dapat saja membakar hati kami..

“Erlin…” gua coba memulai pembicaraan, walaupun dengan ragu. “kamu masih ingat tentang lembayung sore ini, langitnya sama-sama merah”

“ya, kau mengatakan sesuatu tentang Capucino” Erlin menjawab

”Capucino adalah kopi yang lembut dan indah, saking lembutnya, sangat nyaman untuk mencurahkan isi hati padanya.”, gw coba untuk mengingatnya.

“ada yang mau kamu katakan punk?”

Gw cuma bisa menatap diam mata Erlin, satu sisi Erlin hanyalah teman, hanya teman bagi gw, tapi satu sisi lain, gw sangat takut untuk kehilangan dia, gw mau dia selalu ada disisi gw. Suatu ke egoisan? Atau rasa sayang?

Kicir-kicir yang kami naiki sudah hampir berhenti. Erlin pun memecah keheningan yang kedua.

“Mungkin kamu butuh secangkir capucino punk,,, dan aku butuh lembayung sore,, kita orang yang berbeda”

“Tapi lin, bukan itu maksud gw…”

“Sudahlah punk, kita sudah kenal cukup lama, kita sama-sama sudah saling mengerti, dan sepertinya kita perlu berpisah untuk sementara, hanya sementara kuharap..”

“Yaa.. hanya sementara….” Aku pun melirih pelan…

You Were Wonderfull tonight

You Were Wonderfull tonight


secangkirkopitubruk.com

Langit sedikit mendung, namun mentari terlihat redup di sisi barat, sedikit sebelah kanan puncak Gunung Salak. Sedikit janggal langit yang terlihat dari jendela kamar ini. Yup, jendela kamarnya tepat mengarah ke arah barat walaupun menurut fengshuinya ga bagus katanya.

Di jendela yang terbuka, angin sore masuk ke kamar. Secangkir kopi panas, lengkap dengan asap yang mengepul di atasnya menghiasi jendela, mengisi indahnya Jum’at sore ini. Di belakang ku, tepat di sebelah tempat tidur, sound system memainkan lagu-lagu Jammie Cullum “I’m Singging In The Rain, Just Singging in the Rain…”. Dekat meja belajar, tergantung tenang gitar akustik yang menunggu di petik, namun saya bakalan merasa berdosa untuk mengkhianati nada-nada yang mengisi kamar 3×4 ini.

Ditemani Si Bawel, kucing yang baru saja kehilangan “kebawelannya” karena mencuri sayap ayam geprek yang kubeli tanpa di kunyah <Okeh, gw salah, kucing gak punya gigi untuk mengunyah>, alhasil tulang sayap itu sekarang berdiam di tenggorokan Si Bawel. Akhirnya secara tragis dia harus di bawa ke Dokter Kasmedi <Dokter Hewan, bukan Dokter Kandungan> untuk mengeluarkan tulang sayap ayam geprek di tengorokannya. Sistem pencernaannya baik-baik saja, namun sepertinya dia harus di bawa ke psikolog <Untuk para pembaca setia tolong tunjukan dimana ada Psikolog kucing???>.

”Ayolah Zeus, mengapa kau tidak lemparkan petirmu saja. Biarlah hujan badai mengguyur kota Bogor”, ternyata bukan Si Bawel saja yang harus di bawa ke psikolog, tapi gue juga kayaknya..

Oh iya, lupa belum kasih tau siapa gue. Gue Ipunk <Maaf kalo Saya terlalu sering memperkenalkan diri, biar Eksis Cuy!!>, seorang mahasiswa serabutan, yang sedang berusaha mencari jalan hidupnya, bahkan jalan menuju ruang kelas <yang sebenarnya bukan tidak tahu, tapi pura-pura tidak tahu>.

”Anaaaa…, I miss you, but I hate you, but I love you, and you kill my brother”, ungkapan stress yang mendalam.

Diana Ayuningtyas, lebih dikenal dengan nama Ana, seorang wanita tentunya. Entah apa yang kulihat dari dirinya, bukan sosok yang sempurna, namun memiliki aura yang selalu buat gue tersenyum, Dia sosok yang bisa menyebarkan virus kehidupan pada seluruh dunia. Jauh dari bayangan gue tentang wanita yang akan menemani hidup gue, setinggi Luna Maya, semanis Dian Sastro, secantik Chatrine Wilson, dan sehebat Putri Diana… perfecto <Kalo ga salah bahasa Italia, artinya sangat sempurna atau sebangsanya lah…>

Tapi sudahlah, ini tentang cinta, dimana logika sudah tidak bekerja, yang seharusnya menguntungkanku yang memang dominan menggunakan dengkul untuk berpikir. Semua berawal dari sebuah payung <Baca juga “Gara-gara Payung”>. Sebuah perjalanan singkat. Dibawah hujan ringan. Bersama dengan payung pink… “OOOOhhh Tuhan aku rinduu, sungguh aku RINDUUU…!!!”, dalam keadaan mabuk kopi.

“Malam ini gue harus nonton Idang Rasjadi sama Ana!”, itu suara jeritan hati seorang pujangga.

“Tapi… tapi… tapi… bagaimana caranya???”, suara hati inilah, penyebab kenapa gua harus ikut si Bawel ke psikolog…

Okeh, gua rasa kalian para pembaca, khususnya laki-laki, pernah mengalami hal seperti yang gua rasakan. Memegang HP, muter-muter kamar, ngeliat phonebook dan menulis karakter D I A N A <tergantung objek yang di tuju sih, namun dalam hal ini objek dari subjek ‘GUA’>. Lalu kembali muter-muter kamar lagi, kembali liat hp, kembali muter-muter, kembali liat hp… mata memerah, jantung berdegup lebih cepat, sampai akhirnya mati dengan mulut berbusa….

Baiklah waktu sudah menunjukan pukul 16.30 WIB. Kamar ini akan menjadi saksi bisu, ini pertama kalinya gue menghubungi Ana via SMS <layanan komunikasi sekelas kantor pos pada tahun 1980-an>. Yak seperti mengirim surat cinta pertama kali, tidak seperti saat bertemu di kantin Sapta, saat sedang chating atau saat saling balas tweet. Begitu menegangkan, setiap kata di kaji dengan baik, setiap karakter di tulis sangat jelas, huruf besar kecil dihilangkan, angka-angka gak penting di gantikan, jangan sampai jiwa Alay yang sudah merasuki umat manusia muncul di diri gua..

Asalamualaikum, Na lg d kampus?ntar malem ada acara gak?nonton jazznite yuk…” [sent] okeh, gw berhasil, sms sudah terkirim, kata-kata yang sudah di kaji dengan baik, yang sudah di uji dengan berbagai perlakuan, yang sudah distandarkan dengan system SNI, dengan masukan dari Pak Karya juga tentunya… berhasil terkirim… dan angin semilir di luar jendela pun berhenti, bahkan jangkrik yang tadinya diampun tewas mengenaskan….

Apa yang harus kita lakukan sekarang?? Sebagai lelaki sejati, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu… gue yakin kalo sms itu bakal di bales, karena dia sudah belajar Agama Islam sejak SD, guru agama gua bilang kalo ada yang mengucapkan salam “Asalamualaikum”, wajib dibalas dengan ucapan “Wa’alaikumsalamm…” jenius banget deh gua..<walaupun hal ini tidak berkorelasi dengan kehidupan nyata>

[inbox] “Walaikumsalam,gw ud balik dari kampus mah,ga ada acara sih.jazznite jm brapa?

“Oh mamen!! Ada balesan!!!”, si bawel, pemeran yang hampir saja terlupakan pun menjerit.. <okeh jangan terlalu anggap serius bagian ini>

jam 7, ada Idang Rasjidi loh!Udah di rumah?” [sent]

[inbox] “Belum, masi dijalan mau k boqer dulu.. pengeen.tp sempet ga yah?”, sial, dia ada acara ternyata, tapi kalimat terakhir, gue yakin itu adalah suatu pesan yang penuh dengan harapan, dan di sms yang awal dia bilang gak ada acara, gue harus lebih meyakinkan!!!

<buat para pembaca yang secara kebetulan tidak berdomisili di kota Bogor dan tanpa meragukan intellegensia kalian mohon maaf atas kata  ‘boqer’ yang tidak di sensor, kata ini kebetulan homophone. Yang di maksud disini adalah salah satu mall di kota Bogor, dan mungkin yang anda pikirkan adalah kegiatan sakral di pagi hari di dalam toilet>

Ciee..belanja mlulu nih!hehe..keburu lah..masih jam 5..ntar di jemput d boqer deh..” [sent] dalam hati gue sebenernya ‘sial!!sama siapa lagi dia ke boqer!!!’

[inbox] “Haha.bukan belanja juga pung.tdny mau ntn.tp teu purun.jd malah mau krimbat-an..hahaha…” <teu purun, istilah dari bahasa sunda yang artinya gak jadi> okey, mau krimbat katanya, berarti dy lagi jalan sama cewek atau paling apes sama bencong.. hilanglah rasa cemburu..

Tetep jah nyalon..glamor pisan..haha… jadi bisa ya Na?🙂” [sent] <glamor pisan: glamor banget>

[inbox] “Lain glamor.manjain diri lahh kan rarieut gara2 proposal.haha.. bole2.k boqer jm berapa?”  <rarieut: pusing banget>

Tiba-tiba terdengar nyanyian ‘I like a move it.. move it.. I like a move it..move it..‘, dan tarian pedalaman afrika pun mengacak-ngacak kamar 3×4.

Jam setengah tujuhan deh abis maghrib.okeh?” [sent]

[inbox] “Okelahh..”, senyumpun melebar..

Yup makasih Anaaa..” [sent]

[inbox] “sama samaa..

saturday wait

and sunday always comes too late

but friday never hesitate…

i don’t care if monday’s black

tuesday wednesday heart attack

thursday never looking back

it’s friday i’m in love

Entah mengapa, bahkan Zeus pun tidak dapat menjelaskan setelah sms terakhir itu seolah-olah ada The Cure di kamar ini dan menyanyikan Friday I’m In Love. Orang mengatakan sabtu malam <malam minggu> adalah malam yang indah, tapi buat gue sekarang I Love Friday, Friday I’m In Love, Friday never hesitate…nananana…naaa..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Eric Clapton – Wonderful Tonight

It’s late in the evening

she’s wondering what clothes to wear

she puts on her make-up

and brushes her long blonde hair

and then she asks me, “Do I look all right ?”

and I say, “Yes, you look wonderful tonight”

We go to a party

and everyone turns to see

this beautiful lady

that’s walking around with me

and then she asks me, “Do you feel all right ?”

and I say, “Yes, I feel wonderful tonight”

I feel wonderful because I see the love light in your eyes

and the wonder of it all

is that you just don’t realize how much I love you

Lagi-lagi sebuah lagu mengiringi pertemuan yang sangat dramatis di depan Gramedia Botani Square <Boqer>. Seperti di film-film gitu, waktu seolah-olah bergerak sangat lambat, kamera bergantian mengambil gambar seorang wanita dengan baju putih, celana jins hitam, dan tas agak besar yang biasa di bawa wanita <kadang saya ingin membongkar isi tas itu, dan secara terkejut menemukan barang-barang doraemon didalamnya>, bahkan kamera menyorot tiap detail gelang berwarna kuning dan merah yang dipakai, kalung berbentuk bulan sabit dan ada juga kalung dengan bandul uang cina <mungkin,yang ada bolong ditengahnya itu looh>, dan sepatu <yang mungkin baru saja menginjak kotorannya si Bawel>. Tapi mengapa saat menyorot si Lelaki, kamera hanya mengambil gambar melalui punggungnya. Itu juga menggunakan effek blur pada punggung si Lelaki dan fokus pada si Wanita. Sampai saat ini penulis hanya menyimpulkan kameramen adalah lelaki hidung belang! Dan patut diawasi dalam masa PDKT ini.

Tidak banyak yang kami bicarakan disini, kami sama-sama sudah tidak sabar ingin menonton Jazznite di Orchard Walk. Dan jujur gua agak grogi bagian pertemuan awal ini. Mungkin karena gerakan kameramen yang mengganggu konsentrasi gua, atau mungkin karena jeritan si Bawel saat gua nerima balasan SMS masih terngiang di kepala. <mohon maaf agak ngaco, maklumlah lagi falling in love>

Dan pada akhirnya, obsesi gua malam ini terlaksana juga. Kami pun mendapatkan meja yang cukup nyaman untuk menikmati dentingan piano dari sang maestro, ditemani makanan malam dan coklat panas… ougghh sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata…

It’s time to go home now

and I’ve got an aching head

so I give her the car keys

and she helps me to bed

and then I tell her, as I turn out the light

I say, “My darling, you were wonderful tonight,

oh my darling, you were wonderful tonight”

to be continue…

Pindah Rumah

Pindah Rumah


Akhirnya, gua ngerasain juga pindah rumah.

Sejak dulu gua baru pernah ngerasain pindah rumah waktu umur 5 tahun. Itu juga ke rumah yang lebih kecil dan cuma berjarak kurang 100 m dari rumah yang lama. Kejadiannya sudah berlalu sejak 21 tahun yang lalu (Kampret udah tua ternyata gua).

*skip*

Bukan kejadian 21 tahun yang lalu itu yang mau gua ceritain di postingan ini. Lagian gak ada juga yang gua ingat  waktu umur gua masih 5 tahun.

Trus rumah apa?

Tadaaaa… *drum roll*

secangkirkopitubruk.wordpress.com pindah rumah ke secangkirkopitubruk.com😉

Sehari Sebelum Lebaran secangkirkopitubruk.com

Sehari Sebelum Lebaran secangkirkopitubruk.com


secangkirkopitubruk.com

Semakin bertambah umur, semakin banyak kegiatan yang kita kerjakan. Apa sih yang biasanya terjadi disaat-saat seperti ini?
Umur membuat kita sering lupa. Kerjaan membuat kita kehabisan waktu. Gabungan dari keduanya bertransformasi jadi Lupa Waktu.
Itu yang terjadi sama gua hari ini.
Kampret emang. Gua lupa kalo hari ini gua udah niat puasa. Kesempatan terakhir ditahun ini gua lewatkan karena lupa.
Jangan tanya karena apa!
Apalagi yang bisa membuat gua khilaf selain karena si hitam manis. Kopi.
Ceritanya tadi subuh gua sahur di rumah bang rifky, lebih awal dari biasanya. Jam setengah 4 subuh, gua udah terjaga untuk sahur (iya, bergadang maen pes tepatnya).
Gua udah makan, udah minum susu beruang (berharap gemuk) terus tidur dengan pulas.
Jam 11 siang gua dibangunin Bang Rifky, soalnya Kang Irawan mau ngambil PSnya (Tega kamu Kang!).
Dengan kesadaran secukupnya, gua ngeliat yang laen lagi pada ngerokok. Beralih ke meja yang tadinya disitu ada PS (masih ga rela PSnya dibawa pergi) gua ngeliat ada kopi sisa semalem. Seperti goyangan Kuda Striptis, gua seruput sisa kopi hingga tetes terakhir.
Tiba-tiba ada tegoran dari balik pungung “Pung, katanya mau puasa?”
….
Kepalang asem, gua bakar sebatang rokok.

Featured Artist: Alberto Cerriteno

Featured Artist: Alberto Cerriteno


featureartistHi guys!

Hope everyone had an awesome weekend! Unfortunately its Monday again…and as usual it was extremely hard to get my butt out of bed this morning! I wanted to stay in bed and hide all day long…but..there’s work to do! hmph! Well…might as well make the best of it!

Today’s feature is Alberto Cerriteno. Here’s a quick little bio on him pulled from his website:

Alberto Cerriteño is a Mexican illustrator & designer who has lived in America; Portland for nearly four years now. Strongly inspired by urban vinyl toys, alternative cartoons, and the pop surrealism movement, Alberto Cerriteño has developed his own very personal technique and style, having always present a delicate hints of traditional Mexican artistic influences in his management of rich textures and decorative patterns. These contrast strikingly with the blending of desaturated colors and ink, sometimes featuring a vintage coffee finish.”

Enjoy!

Acerritenoacerriteno1acerriteno3acerriteno4acerriteno5acerriteno6

So…

View original post 8 more words

Semangat!!!

Semangat!!!


secangkirkopitubruk.com

Satu bagian kecil yang seharusnya diselesaikan. Sejenak begitu membara dengan kata “semangat” yang kau ucapkan. Namun, seperti selewat saja adrenalin membakar sel-sel otak yang bekerja. Aku tersadar, bukan kau yang memberikan, tapi aku yang meminta.

“Tapi aku selalu memberikan apa yang kamu minta!”, sesosok paras mu mengingatkanku.

Ya, kamu selalu ada ketika aku berkata “aku rindu kamu” atau “aku ingin bertemu”.

Kamu selalu ada ketika aku ingin bercerita “kemarin aku minum secangkir kopi bersama teman ku” atau “aku kelelahan, tanggung jawab ini terlalu menggerogoti tubuh ku.”,”SEMANGAT!” jawabmu.

Terkadang kamu mengatakannya dengan penuh semangat juga, hingga harus berteriak lantang. Seperti tidak cukup aku yang mendengarkan. Terkadang kamu mengatakannya dengan penuh pengertian, terasa lembut ditelinga. Belum lagi saat kamu menambahkannya dengan sedikit senyuman. Kadang haru menguatkan ku.

Terkadang juga kamu mengatakannya dengan seadanya, membuat aku malu pada diri sendiri, seolah tidak akan ada semangat tanpa mu.

Seperti malam ini, aku malu harus meminta semangat dari mu. Satu kata yang sudah terbiasa aku dengar darimu, tapi kali ini berbeda. Bukan hanya malu, aku takut. Seperti ada yang menghantui dari kata-kata itu. Seperti ada rasa kehilangan. Entahlah.

Satu persatu sudah menghilang, seiring dengan waktu yang semakin berkurang. Seiring dengan waktu yang bertransformasi pada satu bentuk yang baru. Masa depan.

Seiring waktu yang aku gunakan untuk mencari. Dirimu yang baru.

Arkadia! | rev. Sayap-Sayap Mengembang

Arkadia! | rev. Sayap-Sayap Mengembang


secangkirkopitubruk.com

Kelak kitapun hanya bisa membisu

Tanpa kata memandang sayap yang mengembang

Menerbangkan kita ke langit yang berawan

Angin disanapun bertiup kencang

Memisahkan kita yang tak dapat berpegangan

Angin begitu kuat, ada yang membanting ke langit, ke bumi, bahkan menenggelamkan ke dasar samudra.

Aku melihat sebagai titik pusat, titik nol energi tak berkuasa.

di sini aku melihat waktu yang diam, dimensi berhenti mengembang.

Bagaikan Cronos yang menjaga, mencari keseimbangan dunia, namun kematiannya membagi dunia jadi tiga.

seperti terpenjara di dunia bawah bersama Hades, menopang lautan seperti Poseidon, dan hanya dapat melihat dunia bagaikan Zeus.

Tapi aku Bukan Zeus, Poseidon, ataupun Hades. Aku tidak ingin menjadi penguasa, namun hidup terkekang dunia.

Aku hanya ingin menjadi Hermes, dengan kaki bersayap, bebas melangkah, terbang untuk Odiseus yang terjebak di tengah lautan Poseidon.

Dan kini, beban di sayap ku terlalu kuat. Melupakan Odiseus yang menunggu. Bukan istana Athena atau Gunung Olympus yang aku tuju. Tapi Arkadia! Aku ingin pulang ke Arkadia.

Secangkir Teh Hangat

Secangkir Teh Hangat


secangkirkopitubruk.com

SELINGKUH. Mungkin itu kata yang cocok. Salah siapa? Dia yang hadir di pagi ku, mengucapkan selamat pagi, menghangatkan jemari. Kemana saja kau selama ini? Bahkan, ampasmu tak tersisa di cangkir ku.

Berani sumpah! Bukan aku yang menghabiskannya. Lagi pula kalau aku habiskan, pasti akan selalu ku isi kembali. Sekarang? Ampas mu menghilang, ekstrak mu pun tak tahu ada dimana.

SECANGKIR TEH HANGAT. Kini terasa lebih lembut mengisi kerongkongan, seringkali lebih menghangatkan pagiku. Lembut, hangat, dan menenangkan. Kadang membuat ku lupa akan masa lalu. Seperti pagi yang baru, lebih segar, dan yang pasti selalu ada. Kecup demi kecup, memberikan sensasi baru yang lebih menyegarkan. Hingga waktu berlalu aku rasakan.

Kemana hangat mu? Kenapa sudah tak sehangat pagi tadi? Kemana lembut mu? Aku tak merasakan lagi. Apalagi menenangkan?

SELINGKUH? Aku rasa hanya PELARIAN!