klasifikasi anak Teknik Pertanian

klasifikasi anak Teknik Pertanian


Seperti biasa saya ambil tempat duduk di barisan pertama, dari belakang tentunya, bersama Sapta Street Legend <Makhluk-makhluk penghuni pohon jambu yang tumbuh di pinggir Kantin Sapta>. Dari belakang sini, dapat terlihat semua mahasiswa Teknik Pertanian. Dan dari semua mahasiswa depresi ini dapat di bagi menjadi beberapa golongan untuk memudahkan pengidentifikasian.

Yang pertama, Mahasiswa barisan terdepan. Dengan spesifikasi: selalu terlambat masuk kelas, sial banget dia, kursi kosong tinggal barisan depan. Dan biasanya orang-orang ini yang selalu menjadi tumbal dosen-dosen killer. Seperti Pak Karya tentunya.

Golongan kedua, yang datang memang untuk kuliah. Spesifikasinya kurang jelas, karena mereka sedikit terpencar di bangku tengah, namun biasanya orang-orang ini datang paling awal, membawa bahan ajar dan catatan, mudah dikenali saat menjelang ujian. Karena mereka menjadi orang paling dicari sejagat TEP <baca: Teknik Pertanian>. Untuk di jarah catatannya dan di eksploitasi otaknya tentunya.

Golongan ketiga, datang untuk pacaran. Dapat ditemukan disudut-sudut ruang kuliah atau di sisi yang memang jarang dihuni oleh mahasiswa lainnya. Mereka selalu duduk berdua, senyum-senyum malu, padahal gak ada yang lucu, yang paling kasian gak punya temen laen. Hidupnya hanya berdua seperti sendal jepit yang ditakdirkan untuk bersama sampai akhir masa <kasian sungguh sendal jepit>.

Golongan keempat. Rohis. Orang- orang ini yang banyak dimusuhi oleh mahasiswa lainnya. Karena mereka selalu membatasi pergerakan orang lain dengan mengatakan ”TIDAK”. Dan yang paling di tentang oleh mahasiswa lainnya adalah usul mereka untuk menggunakan hijab dalam kelas <terutama oleh golongan 3 yang merasa terancam eksistensinya>.

Golongan kelima. Golongan yang salah masuk jurusan. Atau mungkin salah masuk universitas. Atau mungkin dilahirkan di dunia yang salah. Atau mungkin seharusnya tidak dilahirkan <mohon maaf sedikit frustasi dengan takdir>. Mereka datang ke kampus hanya untuk memenuhi syarat mengikuti ujian dengan menandatangani absensi. Mereka dapat dikenali dari posisi duduk yang terbelakang. Mencuri-curi kesempatan membuka facebook. Ada juga yang memelototi papan tulis dengan mata merahnya.

Akhirnya Pak Karya menyampaikan salam perpisahan dengan memberikan tugas akhir semester yang bejibun. Golongan satu sampai empat akan berpencar ke habitatnya masing-masing. Kosan. Sedangkan golongan lima menyesali nasibnya di bawah pohon jambu yang tumbuh di depan kantin Sapta. Disanalah aku selalu meratapi hidup. Bersama Abi dan Arif.

Abi dan Arif adalah teman seperjuangan ku yang sama-sama berjuang untuk bertahan sebagai mahasiswa teknik. Tujuan kami sama, yaitu mendapatkan gelar ST berapa lamapun kami harus meratapi nasib di bawah pohon ini <pohon jambu yang tadi>. Kami bertiga sama-sama salah masuk jurusan, Abi adalah seorang musisi yang berjuang mencari panggung di sana-sini untuk mengembangkan bakatnya. Arif berusaha untuk menjadi artis yang punya obsesi untuk berperan dalam film holiwood, biarpun hanya sebagai peran pengganti. Sedangkan saya…. saya hanya sedang mencari bakat terpendam, yang tak kunjung ditemukan..

Sebenarnya bukan hanya bertiga kami duduk-duduk di bawah pohon keramat ini <masih pohon jambu yang sama>. Ada banyak mahasiswa lain dari seantera jagat IPB yang biasa duduk disini. Namun sepertinya tidak perlu saya sebutkan satu-per-satu, karena akan membutuhkan ratusan halaman A4 untuk mendeskripsikan  makhluk-makhluk itu.

Begitu hambar kalau duduk di bawah pohon ini tanpa secangkir capucino dan sebatang Super fineclop Cigarate. Tapi apa daya sebagai mahasiswa yang bahkan sulit untuk mempertahankan statusnya, sehingga kami pun hanya bisa bengong dan melihat-lihat mahasiswa lain yang menikmati sajiannya di bangku kantin. Otomatis satu-satunya hiburan yang menyenangkan hanya melihat orang-orang lalu lalang di Kantin Sapta sambil megomentari dandanan dan tingkah mereka. Enggak beda jauh dengan gosip yang dibicarakan layaknya seorang lelaki sejati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s