STASIUN KERETA (part 1)

STASIUN KERETA (part 1)


secangkirkopitubruk.com

Entah mengapa belakangan ini banyak sekali orang yang menanyakan jadwal kereta sama saya, padahal perlu kalian ketahui saya sendiri tidak tahu berapa banyak gerbong kereta ekonomi <siapa juga yang kerajinan ngitungin>. Tapi bukan berarti saya tidak punya pengalaman sama sekali di dalam gerbong ekonomi. Dan karena penulis orang yang tidak sombong, baik hati, dan rajin menabung <sekali lagi kalian tidak akan menemukan korelasinya> penulis ingin berbagi sebuah pengalaman di gerbong ekonomi.

Kamis, 28 Januari 2010, waktu menunjukan pukul 08.15, secangkir kopi menemani pagi hari yang sangat cerah <padahal mendung, tapi karena saya menunggu teman wanita untuk menikmati liburan di Dufan, entah kenapa hari terasa begitu cerah J>.

Erlina Putri, kalian boleh memanggilnya Erlin. Seseorang yang kukenal sejak kelas dua SMA. Dengan warna kulit Sawo matang khas Indonesia, dan hidung agak mancung perpaduan ras timur dan barat yang cukup elegan. Dengan gayanya yang simple mengetuk pintu rumahku tepat pukul 08.30 sesuai janjinya.

Kami memutuskan untuk pergi ke Dufan tanpa menggunakan kendaraan pribadi <karena kami hanya memiliki sebuah motor, dan bila kami gunakan motor, maka perjalanan Bogor-Dufan akan membuat kami mabuk tanpa melalui Tornado, Kora-kora, bahkan Rumah Boneka>.

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, kami memulai perjuangan dengan memilih angkot yang akan kami pakai. Perjuangan? Memilih? Kenapa? Karena semua orang tahu memilih angkot yang agak ramai tanpa anak kecil, ibu-ibu super besar, dan anak ingusan adalah hal yang penting <Bagi yang pernah disiksa angkot ngetem, kena muntahan anak kecil, digencet ibu-ibu super besar dan kena ingus anak SD, pasti setuju sama penulis> dan untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan.

Setelah 20 menit yang sia-sia dalam hidup kami, akhirnya kami mendapatkan angkot istimewa itu…

…dari BOGOR DI PAGI HARI menuju KOTA DI SEBELAHNYA…

Berangkat pada  pagi hari sangat penting bagi kesehatan mata, terutama kalau kamu cowok yang tinggal di Bogor.

Mengapa begitu? Akan kujelaskan.

Well, begini, Bogor  identik dengan Kebun Raya yang termahsyur ke seluruh penjuru Dunia <coba jah liat banyak bule di sana loooh, namun anehnya banyak orang Bogor asli yang ogah untuk liburan disana>. Kebun Raya identik dengan lari pagi dan lari pagi sangat identik dengan cewek cantik bercelana pendek yang pada akhirnya menyehatkan mata kita <Have you ever seen man without staring on woman?>. Sayangnya kami berangkat agak siang dan saya tidak berangkat sendiri -_-.

Selain Kebun Raya, Bogor memiliki banyak sekali hujan. Air yang banyak memberikan dampak positif bagi hijau dan segarnya kota Bogor <hijaunya angkot bogor gak bisa dimasukan ke dalam faktor alam ini>. Secara alamiah tanaman akan menyerap air sesuai kebutuhan mereka, sementara sisanya akan segera dikirim langsung ke Jakarta, diserap oleh sampah dan pada akhirnya menyebabkan banjir. Dan sebagai tambahan, proses alamiah yang terus-menerus ini pada akhirnya merupakan salah-satu penyebab sinisnya pandangan orang-orang tertentu ketika seorang pemilik KTP Bogor berusaha membayar tiket di Stasiun Jakarta Kota. Namun tentunya hal ini terjadi hanya pada saat musim hujan.

Lima belas menit kemudian sebuah angkot berhasil dengan gemilang menurunkan kami berdua tepat di depan penjara Paledang.

PENJARA

Penjara adalah salah satu penemuan besar dari umat manusia. Penjara adalah sebuah sistem penginapan yang diperuntukan kepada masyarakat tertentu yang telah melakukan kegiatan terentu. Sistem ini menyediakan fasilitas-fasilitas tertentu seperti kamar gratis, makanan gratis, fasilitas olahraga gratis dan fasilitas kesehatan gratis. Namun ada beberapa kamar spesial edition yang membutuhkan uang sewa.

Seperti yang telah kita ketahui bersama. Sistem Angkutan Kota Bogor di rancang bagi pelanggan yang bertujuan Stasiun Bogor untuk sedikit jalan sehat selama lima menit dari penjara paledang menuju Stasiun Bogor <mungkin untuk membuat warga kota Bogor sehat jiwa, raga, dan rohani, may be..>.

Stasiun merupakan salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang. <tua/kuno>. Stasiun Bogor pun memiliki karakter yang kokoh dan nilai seni yang tinggi <namun hal itu dapat dirasakan apabila kita berhasil menutup mata pada sampah, pedagang kaki lima, dan pengamen yang tak terkoordinasi dengan baik>.

Seperti mahasiswa normal dengan uang jajan pas-pasan lainnya yang berjuang banting tulang mempertahankan status mahasiswanya  <Bagi pembaca yang gak ngerti, ini metafora lho. Bukan saya banting-banting tubuh yang seperti tulang ini> dari pagi sampai malam. Kami pun mau tak mau memilih kereta ekonomi untuk mencapai Stasiun Jakarta Kota.

KERETA EKONOMI

Oke sepertinya penulis perlu menjelaskan apa yang dimaksud dengan ”Kereta Ekonomi”. Jenis Kereta ini adalah salah satu penemuan besar umat manusia <lagi> lainnya, yang ditujukan kepada sekelompok orang tertentu yang memiliki ketebalan dompet tertentu <maksudya duit> dan terutama berpedoman hidup “Sampai dengan Selamet” <Yup! Dengan Selamet, bukan dengan Budi maupun Ibu Budi, tetapi dengan SELAMET>

Selain cepat, murah, live music dan pelayanan kuliner 24 jam, penemuan besar ini pun dilengkapi dengan pintu gerbong yang secara otomatis terbuka. <Sekali lagi yup! ”OTOMATIS TERBUKA” dan bukan ”OTOMATIS TERTUTUP”> Dan pada gerbong tertentu penumpang akan disuguhkan pemandangan ke bagian bawah gerbong tanpa dipungut biaya tambahan <kamu tau gak kalo di kepulauan seribu ada perahu yang menyediakan pemandangan ke bawah perahu, dan itu mahal! Jadi saya rasa — mudah-mudahan— ada beberapa pelanggan kelas ekonomi yang dapat menghargai fasilitas ini>

Seperti pelanggan kereta ekonomi lainya, KAMI memiliki kartu istimewa yang memberikan KAMI keleluasaan untuk memasuki wilayah stasiun tanpa membayar tiket. Dan yang terpenting, kartu istimewa ini mengijinkan KAMI untuk memberikan sebuah pandangan simpati terhadap bagian anggota masyarakat di luar KAMI, yang dengan terpaksa merogoh kantong mereka lebih dalam guna mendapatkan sehelai tiket. <namun sekali lagi, kali ini saya tidak menggunakan fasilitas ini karena alasan teman perjalanan saya.. gengsi lah yaw>

Sesuai rencana yang Saya dan Erlin telah buat semalam suntuk dengan gemilangnya, kami membeli tiket Bogor-Jakarta Kota untuk keberangkatan kereta jam 09.35 <sebagai bonus bagi pembaca setia, kalian mendapatkan link jadwal kereta lengkap di link jadwal kereta>

Kebetulan saat kami masuk stasiun sudah ada kereta ekonomi yang ngetem <perlu kalian tahu, kereta ekonomi juga seperti halnya angkot di Bogor yang memiliki moto ”untuk pelanggan, kami siap menunggu”> lengkap dengan fasilitas yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Untungnya kami datang lebih awal jadi mendapatkan fasilitas khusus yang mungkin tidak didapatkan sebagian besar pelanggan lainnya, tempat duduk.

Di dalam gerbong yang sesak ini kita bisa menemukan hampir semua golongan masyarakat mulai dari yang Kaya <orang-orang yang lagi iseng gak ada kerjaan>, Menengah <hampir kaya>, Pas-pasan <hampir miskin>, Miskin <yang ini sudah pasti miskin>, Pengamen <well, beberapa ada yang bagus lho>, Pedagang Makanan (a nonstop culinary), Pengangguran <kebanyakan dari mereka masuk ke dalam kategori pas-pasan ke bawah>, dan Pencopet <sebuah bidang pekerjaan yang sampai saat ini masih belum bisa dicantumkan di dalam KTP>.

Perlu kalian ketahui, tokoh utama dan pasangannya telah memasuki salah satu kebudayaan primitive <pernah denger konteks hubungan antara sarden dan kereta ekonomi?> yang masih eksis di Indonesia. Dan harapan semua laki-laki normal Indonesia yang berada dalam sistem budaya ini adalah:

  1. Menjelajahi semua penumpang di dalam gerbong guna mencari wanita yang merupakan saudara kembar Chatrine Wilson, yang kebetulan telah lama hilang. Dan minimal bisa dapet nama dan nomor teleponnya. <namun jangan lakukan hal ini apabila kau bersama pasanganmu>
  2. Menjauhi semua species laki-laki yang memiliki kelebihan dalam hal otot, tinggi badan, ketampanan, uang dan terutama bau badan.<Pernah liat iklan Televisi yang pake kalimat sebelum dan sesudah? Well, jangan sampe di dalam gerbong kamu jadi sampel orang yang sebelum> Hal ini lebih berkaitan dengan persaingan untuk mendapatkan target yang telah dijelaskan dengan gemilang dalam poin a, dan dalam konteks ”aku”, untuk menjaga gengsi dengan pasangan kencanku.
  3. Menjauhi nenek-nenek terutama yang keliatannya genit dan suka mencubit pipi <I’ve had one. Long ago before I lose my cuteness>— karena gemas—. Apalagi dalam posisiku yang sudah mendapatkan tempat duduk—hal ini karena nenek-nenek itu akan merasa lebih berhak mendapatkan fasilitas khusus yang sudah dengan susah payah saya dapatkan. Selain itu Hal ini juga berkaitan dengan konsentrasi dan harga diri terutama untuk mencapai target poin a, dan dalam konteks ”aku”, untuk menjaga gengsi dengan pasangan kencanku.
  4. Menjauhi anak-anak, terutama anak-anak yang berpotensi mabok kereta. Hal ini pun berkaitan dengan imej yang akan diterima terutama apabila poin a sudah terpenuhi, dan sekali lagi dalam konteks ”aku”, untuk menjaga gengsi dengan pasangan kencanku. <yang ini masuk akal karena sepatu semahal apapun bila ditambah dengan muntahan isi perut yang gak jelas bentuk dan aromanya akan berbanding terbalik terhadap cewek cantik>.

Perjalanan menuju Stasiun Jakarta kota merupakan perjalanan yang cukup panjang, membutuhkan waktu lebih kurang satu setengah jam perjalanan. Erlin pun hanya terdiam di tempat duduknya sambil memandang keluar melalui pintu yang secara otomatis terbuka <masih ingat kan tentang OTOMATIS TERBUKA bukan OTOMATIS TERTUTUP>.

Entah apa yang dia pikirkannya. Apakah tentang hubungan kami yang tanpa status atau memikirkan tentang seorang anak yang baru saja meminta uang pada kami dengan gitar kecilnya. Atau mungkin tentang memikirkan kecerdasan bapak-bapak dengan baju kantoran <well, saya juga bingung, kenapa masih ada saja yang baru berangkat kerja jam segini? Atau mungkin karena kebiasaan saat kuliah telat terus> yang mempersiapkan kursi lipat dan koran dari rumah <sepertinya dia sudah tahu tidak akan kebagian bangku di gerbong ini>.

Sebenarnya ingin aku memperjelas tentang hubungan kami, sudah hampir lima tahun kami menjalin hubungan yang seperti ini. Aku pun tidak tahu kenapa, aku tidak pernah dapat mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Mungkin karena aku mengenalnya sebagai seorang sahabat, atau mungkin karena ada orang lain yang benar-benar tidak dapat aku lupakan. Entahlah… sepertinya aku belum siap dan belum pantas untuk menjadi pasangannya…

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s