GARA-GARA PAYUNG

GARA-GARA PAYUNG


secangkirkopitubruk.com

Hujan sedang membasahi bumi, kadang rintiknya mengingatkan kita pada nyanyian merdu sang alam. Dengarkan, maka kita akan mengerti dengan seksama. Dengarkan, maka kita tidak akan sadar sedang terdiam… saat itu kita pun akan terbawa dalam imajinasi yang seakan nyata. Dengarkan lagi maka kita akan tersenyum walau hampa. Sekarang lihatlah sekeliling kita, mereka hanya menatapmu curiga, mungkin ada beberapa yang mengerti, dan berusaha menghubungi RSJ dan petugas keamanan terdekat…

Rintikan hujan memang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, dia dapat membuat hati tenang, sehingga kita akan mudah terbawa dalam imajinasi yang kadang sangat menyenangkan. Tapi kali ini berbeda, tatapan penuh pengharapan di depan pintu kosan Mei, berharap hujan berhenti. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain nge-tweet (salah satu ejaan antar bangsa), ‘Hujan… BERHENTILAH’, maka geledek pun menjawab (yup, geledek…karena bunyinya glllllglgllleeeddddekk).

Sepertinya di tunggu berapa lamapun hujan ini tidak akan berhenti, untung saya orang yang jenius sehingga terpikir penemuan umat manusia yang berawal dari selembar kulit pisang yang digunakan manusia-manusia pada kala Pleistosen (kalo pada gak tahu kala pleistosen itu kapan, bayangkan saja zaman dulu banget banget banget).

“Mei, gw pinjem payung donk, mau ke Sapta nih” saya meminta.

“whaaat? Heeeii lu jangan suka bercanda ah,sore gini? Hujan-hujan pula? Lw mau ke Sapta?”

“haha… gw mau cabut sama Oki nii!pinjem yaa Meeeiiii..”

“hmmm boleh, tapi gw adanya warna pink? Yakin lw mau pinjem? Romantis gila ntar sama Oki!!!wkwkwk”,

“Siaalll!! Maksud lw kita bakalan jadi pasangan homo?”

Payung sudah di tangan, warnanya yang pink sedikit menggoyahkan niat. Tapi dengan kepercayaan diri yang tinggi saya mulai melangkah menyusuri rintikan hujan yang membasahi aspal. Seperti yang ku duga, akan banyak orang yang menatap manusia gondrong, yang agak mirip preman gagal memakai payung warna pink sedang menyusuri sepanjang Jalan Bateng. Ada tiga kemungkinan apa yang membuat orang menatap manusia itu, yaitu:

  1. Menatap karena manusianya, sebut saja berparas tampan rupawan, ramah, murah senyum atau sebaliknya.
  2. Menatap karena payungnya, bisa di bilang payungnya lucu berwarna pink, ornamennya menarik, atau sebaliknya.
  3. Menatap perpaduan antara manusia dan payungnya.. mungkin dalam pikirannya “ih, sumpah cuco banget deh tuh orang pake payungnya” atau sebaliknya..

Kalian bisa membayangkan berapa orang yang menyimpulkan “atau sebaliknya” -___-

Perjalanan kosan Mei-Bateng-Berlin sudah terlewati, sekarang saya sudah memasuki kawasan faperta. Di tempat ini lah banyak mahasiswa yang tidak mengenal pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’ terjebak dalam suasana pada alinea pertama. Dan disana juga saya bertemu dengan tiga orang teman yang tidak ingin saya temui dalam keadaan menggunakan payung berwarna pink.

“IPPUUUUNK!!!”, damn, itu suara Okta, bagaimana bisa dia menemukanku di keramaian ini..

“Hei Okta,, hei Ana,, hei……”

“ini Gina Punk”, Okta memperkenalkan.

“hei Gina” saya mengulangi. ~ mohon diralat pernyataan tiga orang teman sebelumnya, ternyata dua orang teman dan satu orang baru saya kenal..😀

“Ipunk, minta tolong donk…”, Okta memohon.

“kenapa Ta? Tenang gw kan superheroes yang suka menolong orang-orang tertindas.”

“what???? Maksud lw kita orang yang tertindas?”, Okta protes.

“hahaha.. apa yang bisa gw bantu?”

“begini punk,, kita kan bertiga, tapi payungnya cuma satu… anterin yaaaa?”, Okta tersenyum dengan penuh harap, saya mengalihkan mata pada Gina, dia pun tersenyum, lalu mengalihkan pada Ana, berharap dia tidak tersenyum, karena seingat gw dia gak pernah senyum sama gw… oooh…ternyata dia tersenyum, bahkan matanya berbiar-binar… seperti si bawel saat mengharapkan sisa tulang ayam yang saya makan..dan karena kebaikan hati, saya pun begitu mudah dirayu..

“sampe naek angkot aja, deket kaan?” Okta pun tersenyum lebar.

Okta pun mengeluarkan payungnya. Karena melihat rambut gw yang gondrong berantakan dan payung berwarna pink, Gina mendekati Okta, dan mereka berpayung berdua. Yaa, kalian tau apa itu artinya.. gw mayungin Ana.. sebenarnya gw agak kurang suka sama Cewe bernama Diana Ayuningtyas. Gak tau kenapa, dia terlihat jutek, dan sepertinya pendiam.. apalagi keputusannya membuka kerudung beberapa minggu yang lalu. Tapi jujur, ngeliat dia tersenyum tadi, agak merubah sudut pandang gw.. :p

Bagaikan tukang ojek payung, gw anter Ana nyari angkot. Well, perjalanan garing yang gw bayangkan, dia pendiam, dan gw juga gak beda jauhlah.. gw kan orangnya pendiam, cool cool gitu…waeeee…

“Gw baru tau Punk..lw tuh jangkung parah yaaa?”, Ana memulai pembicaraan,,WHOT??? Sungguh gak gw sangka, sungguh tak terkira, kejutan yang gw dapat, pertama kalinya Ana berbicara sama gw. (mohon maaf agak histeris, sebenernya gw terharu biru sih.. :p)

“hahaha… kemana aja atuh Na selama ini?”

“iya yah kita pertama kali jalan bareng gini sih ya?”

“Ehh, Ojek payung gw mahal loo Na..”, gw coba ngegaring..

“haha, emang berapa sih?? Nanti gw traktir lidi-lidian deh.. plus ucapan terima kasih”, Ana gak mau kalah garing.

“haha parah deh,, ngomong-ngomong pada naek angkot? Pada pulang bukan?”, agar tidak bertambah garing, cepet-cepet gw mulai pembicaraan yang baru yang lebih bermakna..

“Iya pung mau pulang”

“Rumah lw di Bogor ya Na?dimana emang?gw juga di Bogor loo!”

“Oh lw di Bogor juga Punk? Dimana? Gw di Lawang Gintung.”, sepertinya dia sangat antusias dan perjalanan jadi menarik..🙂

“Ya ampun, kenapa gw baru tau sekarang setelah 3 tahun kita kenal..” gw memasang wajah terkejut “padahal rumah kita deket.. gw tinggal di Jalan pahlawan”

Perjalanan singkat tapi terasa panjang, karena sangat ku ingat setiap detailnya, karena sangat kuingat setiap senyumnya, karena akuuu…. Ah apa yang gw pikirin…

Mereka bertiga pun menaiki angkot dan mengucapkan terima kasih, tapi sekali lagi, terima kasih Ana lah yang paling gw ingat, bagaimana dia mengucapkannya, bagaimana dia melambaikan tangan, bagaimana bibir dan pipinya membentuk senyuman, bagaimana matanya sedikit tertutup karena tersenyum, bahkan bagaimana rambutnya terberai. Bahkan setiap detail helai rambutnya yang baru saja saya kenal…Mereka sudah berlalu, tapi gw masih berada di tempat… berpikir apa yang gw rasain.. yaa, ada perubahan sudut pandang pada seseorang..

Entah berapa lama gw terdiam. Akhirnya gw juga tersadarkan oleh getaran dalam kantong. Oooh… ternyata ada yang menelpon..

“Hallo..”

“Punk mana lw?lama Amit?” Oki sedikit berteriak.

Dan gw sedikit terkejut…”Oh iya Ki, gw di jalan, bentar lagi nyampe..tungguin yaaa..hehe..”

to be continue…

7 thoughts on “GARA-GARA PAYUNG

  1. hehehe..gud gud bentar lg jadi saingan gw nih kayanya..ternyata hobby nulis emg harus di kumpulin dan disebar luaskan punk…ceritanya mendetail…klo lo ketemu dosen gw namanya Asep suryana (dosen Sosiologi UI) lo mgkn bisa di ajak nulis jurnal punk…lanjut punk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s