You Were Wonderfull tonight

You Were Wonderfull tonight


secangkirkopitubruk.com

Langit sedikit mendung, namun mentari terlihat redup di sisi barat, sedikit sebelah kanan puncak Gunung Salak. Sedikit janggal langit yang terlihat dari jendela kamar ini. Yup, jendela kamarnya tepat mengarah ke arah barat walaupun menurut fengshuinya ga bagus katanya.

Di jendela yang terbuka, angin sore masuk ke kamar. Secangkir kopi panas, lengkap dengan asap yang mengepul di atasnya menghiasi jendela, mengisi indahnya Jum’at sore ini. Di belakang ku, tepat di sebelah tempat tidur, sound system memainkan lagu-lagu Jammie Cullum “I’m Singging In The Rain, Just Singging in the Rain…”. Dekat meja belajar, tergantung tenang gitar akustik yang menunggu di petik, namun saya bakalan merasa berdosa untuk mengkhianati nada-nada yang mengisi kamar 3×4 ini.

Ditemani Si Bawel, kucing yang baru saja kehilangan “kebawelannya” karena mencuri sayap ayam geprek yang kubeli tanpa di kunyah <Okeh, gw salah, kucing gak punya gigi untuk mengunyah>, alhasil tulang sayap itu sekarang berdiam di tenggorokan Si Bawel. Akhirnya secara tragis dia harus di bawa ke Dokter Kasmedi <Dokter Hewan, bukan Dokter Kandungan> untuk mengeluarkan tulang sayap ayam geprek di tengorokannya. Sistem pencernaannya baik-baik saja, namun sepertinya dia harus di bawa ke psikolog <Untuk para pembaca setia tolong tunjukan dimana ada Psikolog kucing???>.

”Ayolah Zeus, mengapa kau tidak lemparkan petirmu saja. Biarlah hujan badai mengguyur kota Bogor”, ternyata bukan Si Bawel saja yang harus di bawa ke psikolog, tapi gue juga kayaknya..

Oh iya, lupa belum kasih tau siapa gue. Gue Ipunk <Maaf kalo Saya terlalu sering memperkenalkan diri, biar Eksis Cuy!!>, seorang mahasiswa serabutan, yang sedang berusaha mencari jalan hidupnya, bahkan jalan menuju ruang kelas <yang sebenarnya bukan tidak tahu, tapi pura-pura tidak tahu>.

”Anaaaa…, I miss you, but I hate you, but I love you, and you kill my brother”, ungkapan stress yang mendalam.

Diana Ayuningtyas, lebih dikenal dengan nama Ana, seorang wanita tentunya. Entah apa yang kulihat dari dirinya, bukan sosok yang sempurna, namun memiliki aura yang selalu buat gue tersenyum, Dia sosok yang bisa menyebarkan virus kehidupan pada seluruh dunia. Jauh dari bayangan gue tentang wanita yang akan menemani hidup gue, setinggi Luna Maya, semanis Dian Sastro, secantik Chatrine Wilson, dan sehebat Putri Diana… perfecto <Kalo ga salah bahasa Italia, artinya sangat sempurna atau sebangsanya lah…>

Tapi sudahlah, ini tentang cinta, dimana logika sudah tidak bekerja, yang seharusnya menguntungkanku yang memang dominan menggunakan dengkul untuk berpikir. Semua berawal dari sebuah payung <Baca juga “Gara-gara Payung”>. Sebuah perjalanan singkat. Dibawah hujan ringan. Bersama dengan payung pink… “OOOOhhh Tuhan aku rinduu, sungguh aku RINDUUU…!!!”, dalam keadaan mabuk kopi.

“Malam ini gue harus nonton Idang Rasjadi sama Ana!”, itu suara jeritan hati seorang pujangga.

“Tapi… tapi… tapi… bagaimana caranya???”, suara hati inilah, penyebab kenapa gua harus ikut si Bawel ke psikolog…

Okeh, gua rasa kalian para pembaca, khususnya laki-laki, pernah mengalami hal seperti yang gua rasakan. Memegang HP, muter-muter kamar, ngeliat phonebook dan menulis karakter D I A N A <tergantung objek yang di tuju sih, namun dalam hal ini objek dari subjek ‘GUA’>. Lalu kembali muter-muter kamar lagi, kembali liat hp, kembali muter-muter, kembali liat hp… mata memerah, jantung berdegup lebih cepat, sampai akhirnya mati dengan mulut berbusa….

Baiklah waktu sudah menunjukan pukul 16.30 WIB. Kamar ini akan menjadi saksi bisu, ini pertama kalinya gue menghubungi Ana via SMS <layanan komunikasi sekelas kantor pos pada tahun 1980-an>. Yak seperti mengirim surat cinta pertama kali, tidak seperti saat bertemu di kantin Sapta, saat sedang chating atau saat saling balas tweet. Begitu menegangkan, setiap kata di kaji dengan baik, setiap karakter di tulis sangat jelas, huruf besar kecil dihilangkan, angka-angka gak penting di gantikan, jangan sampai jiwa Alay yang sudah merasuki umat manusia muncul di diri gua..

Asalamualaikum, Na lg d kampus?ntar malem ada acara gak?nonton jazznite yuk…” [sent] okeh, gw berhasil, sms sudah terkirim, kata-kata yang sudah di kaji dengan baik, yang sudah di uji dengan berbagai perlakuan, yang sudah distandarkan dengan system SNI, dengan masukan dari Pak Karya juga tentunya… berhasil terkirim… dan angin semilir di luar jendela pun berhenti, bahkan jangkrik yang tadinya diampun tewas mengenaskan….

Apa yang harus kita lakukan sekarang?? Sebagai lelaki sejati, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu… gue yakin kalo sms itu bakal di bales, karena dia sudah belajar Agama Islam sejak SD, guru agama gua bilang kalo ada yang mengucapkan salam “Asalamualaikum”, wajib dibalas dengan ucapan “Wa’alaikumsalamm…” jenius banget deh gua..<walaupun hal ini tidak berkorelasi dengan kehidupan nyata>

[inbox] “Walaikumsalam,gw ud balik dari kampus mah,ga ada acara sih.jazznite jm brapa?

“Oh mamen!! Ada balesan!!!”, si bawel, pemeran yang hampir saja terlupakan pun menjerit.. <okeh jangan terlalu anggap serius bagian ini>

jam 7, ada Idang Rasjidi loh!Udah di rumah?” [sent]

[inbox] “Belum, masi dijalan mau k boqer dulu.. pengeen.tp sempet ga yah?”, sial, dia ada acara ternyata, tapi kalimat terakhir, gue yakin itu adalah suatu pesan yang penuh dengan harapan, dan di sms yang awal dia bilang gak ada acara, gue harus lebih meyakinkan!!!

<buat para pembaca yang secara kebetulan tidak berdomisili di kota Bogor dan tanpa meragukan intellegensia kalian mohon maaf atas kata  ‘boqer’ yang tidak di sensor, kata ini kebetulan homophone. Yang di maksud disini adalah salah satu mall di kota Bogor, dan mungkin yang anda pikirkan adalah kegiatan sakral di pagi hari di dalam toilet>

Ciee..belanja mlulu nih!hehe..keburu lah..masih jam 5..ntar di jemput d boqer deh..” [sent] dalam hati gue sebenernya ‘sial!!sama siapa lagi dia ke boqer!!!’

[inbox] “Haha.bukan belanja juga pung.tdny mau ntn.tp teu purun.jd malah mau krimbat-an..hahaha…” <teu purun, istilah dari bahasa sunda yang artinya gak jadi> okey, mau krimbat katanya, berarti dy lagi jalan sama cewek atau paling apes sama bencong.. hilanglah rasa cemburu..

Tetep jah nyalon..glamor pisan..haha… jadi bisa ya Na?🙂” [sent] <glamor pisan: glamor banget>

[inbox] “Lain glamor.manjain diri lahh kan rarieut gara2 proposal.haha.. bole2.k boqer jm berapa?”  <rarieut: pusing banget>

Tiba-tiba terdengar nyanyian ‘I like a move it.. move it.. I like a move it..move it..‘, dan tarian pedalaman afrika pun mengacak-ngacak kamar 3×4.

Jam setengah tujuhan deh abis maghrib.okeh?” [sent]

[inbox] “Okelahh..”, senyumpun melebar..

Yup makasih Anaaa..” [sent]

[inbox] “sama samaa..

saturday wait

and sunday always comes too late

but friday never hesitate…

i don’t care if monday’s black

tuesday wednesday heart attack

thursday never looking back

it’s friday i’m in love

Entah mengapa, bahkan Zeus pun tidak dapat menjelaskan setelah sms terakhir itu seolah-olah ada The Cure di kamar ini dan menyanyikan Friday I’m In Love. Orang mengatakan sabtu malam <malam minggu> adalah malam yang indah, tapi buat gue sekarang I Love Friday, Friday I’m In Love, Friday never hesitate…nananana…naaa..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Eric Clapton – Wonderful Tonight

It’s late in the evening

she’s wondering what clothes to wear

she puts on her make-up

and brushes her long blonde hair

and then she asks me, “Do I look all right ?”

and I say, “Yes, you look wonderful tonight”

We go to a party

and everyone turns to see

this beautiful lady

that’s walking around with me

and then she asks me, “Do you feel all right ?”

and I say, “Yes, I feel wonderful tonight”

I feel wonderful because I see the love light in your eyes

and the wonder of it all

is that you just don’t realize how much I love you

Lagi-lagi sebuah lagu mengiringi pertemuan yang sangat dramatis di depan Gramedia Botani Square <Boqer>. Seperti di film-film gitu, waktu seolah-olah bergerak sangat lambat, kamera bergantian mengambil gambar seorang wanita dengan baju putih, celana jins hitam, dan tas agak besar yang biasa di bawa wanita <kadang saya ingin membongkar isi tas itu, dan secara terkejut menemukan barang-barang doraemon didalamnya>, bahkan kamera menyorot tiap detail gelang berwarna kuning dan merah yang dipakai, kalung berbentuk bulan sabit dan ada juga kalung dengan bandul uang cina <mungkin,yang ada bolong ditengahnya itu looh>, dan sepatu <yang mungkin baru saja menginjak kotorannya si Bawel>. Tapi mengapa saat menyorot si Lelaki, kamera hanya mengambil gambar melalui punggungnya. Itu juga menggunakan effek blur pada punggung si Lelaki dan fokus pada si Wanita. Sampai saat ini penulis hanya menyimpulkan kameramen adalah lelaki hidung belang! Dan patut diawasi dalam masa PDKT ini.

Tidak banyak yang kami bicarakan disini, kami sama-sama sudah tidak sabar ingin menonton Jazznite di Orchard Walk. Dan jujur gua agak grogi bagian pertemuan awal ini. Mungkin karena gerakan kameramen yang mengganggu konsentrasi gua, atau mungkin karena jeritan si Bawel saat gua nerima balasan SMS masih terngiang di kepala. <mohon maaf agak ngaco, maklumlah lagi falling in love>

Dan pada akhirnya, obsesi gua malam ini terlaksana juga. Kami pun mendapatkan meja yang cukup nyaman untuk menikmati dentingan piano dari sang maestro, ditemani makanan malam dan coklat panas… ougghh sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata…

It’s time to go home now

and I’ve got an aching head

so I give her the car keys

and she helps me to bed

and then I tell her, as I turn out the light

I say, “My darling, you were wonderful tonight,

oh my darling, you were wonderful tonight”

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s