STASIUN KERETA PART 3 (LEMBAYUNG SORE)

STASIUN KERETA PART 3 (LEMBAYUNG SORE)


secangkirkopitubruk.com

Sudah lama ingin ku tulis bagian akhir Stasiun Kereta, sudah banyak juga yang menanyakan kelanjutan cerita ini. Tapi mohon maaf, karena baru bisa sekarang cerita ini di post. Mudah-mudahan STASIUN KERETA PART 3 yang juga bagian akhir cerita ini bisa membuat pembaca senang.

Sekarang kami sedang berada di depan sebuah jembatan, jembatan ini memotong aliran sungai cisadane yang seperti kopi mocca, namun tidak menggoda untuk diselami. Entah kenapa rasanya gw gak sanggup melewati jembatan ini.. Sepertinya langit diseberang menghitam, petir menyambar, setan pun tertawa menantang.

Di seberang adalah pintu ancol, dan disana ada Dufan, tempat kebodohan manusia, mereka membayar mahal hanya untuk main ayun-ayunan di kora-kora, dibuat muntah-muntah oleh pontang-panting, meluncur dengan kecepatan tinggi dengan halilintar (padahal di Bogor kita bisa mendapatkannya dengan harga Rp 2500,00 saja, dengan menaiki angkot 03 jurusan Ciapus yang ke arah Curug Nangka. Lebih murah, lebih menantang, lebih memacu adrenalin). Sungguh semua ini adalah kebodohan umat manusia, dan gw (manusia paling jenius) sedang memasuki peradaban bodoh ini…

Kami berdua mulai melangkah dan dengan gemilangnya terdengar ost Mortal Kombat, menambah ketegangan jembatan ancol. Tapi tentu saja dengan gaya yang cool, dengan rasa takut yang gue tutup-tutupi, gue tetap melangkah dengan gagahnya.

Pertama memasuki kawasan dufan kalian akan disuguhi oleh biang lala, hati-hati, benda ini sangat berbahaya, ini hanya tipuan creator dari tempat ini. Dia berharap dengan memasang biang lala di pintu gerbang agar pengunjung tertipu dengan berpikir ‘owww,,tempat ini sangat lucu, bersahabat, cocok sekali untuk tempat main anak-anak.’ Lalu mereka akan membiarkan anak-anaknya bebas bermain dengan wahana-wahana yang ada disana. <jangan dibayangkan!!!!>

“Oh bianglala, keren ayo kita naik!”, Tapi wahana ini sangat cocok untuk menghabiskan waktu.

“kamu yakin?ini sudah jam makan loh?”, Erlin ngajak makan.

“oh tentu, makan dulu lebih baik.”, ternyata ada pilihan yang lebih baik selain bianglala..

^^^^^^^^^^^

“Ayo punk!kita mulai!.”, entah kenapa anak ini terasa bersemangat hari ini, padahal kami baru selesai makan.

“okeh, ayo kita ke biang lala!”, gue gak mau kalah semangat.

“Jauh-jauh amat? Yang itu aja!”, oh damned,, Erlin menunjuk ke perahu raksasa.

“Tapi Lin, makanan belum turun!”

“Ah ayo, kapan lagi kita naik kora-kora bareng nenek-nenek!”, kadang dia memang suka bercanda.

Oh WHAT!!! Ada nenek-nenek di antrian Kora-kora, sumpah, gue gak salah liat! Do you Trust me? It’s wonderfull bad day! Gue harus memuntahkan spagheti seharga Rp 25.000,00 gara-gara seorang nenek! Yes, just ‘nenek’! trust me..

Kami antri tepat di belakang nenek itu, umurnya mungkin sekitar 75 tahun. Sepertinya dia tidak bersama keluarganya. Entah bagaimana caranya nenek berkebaya ini bisa ada di antrian. Mungkin dia teringat sebuah lagu ‘nenek moyangku.. seorang pelaut..’, lalu dia sadar diri kalau dia adalah nenek-nenek dan merasa perahu di depannya adalah limusin yang diparkirkan di dufan untuk menjemputnya.

“nek, permainan ini cukup berbahaya, dapat beresiko serangan jantung.” Petugas mencoba meyakinkan nenek-nenek itu, walaupun sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan penglihatannya.

“gak apa-apa nak, dulu nenek sering menghadapi badai ombak.”, nenek itu benar-benar berada di bawah pengaruh minuman keras.

Nenek itu mendapatkan tempat duduk tepat di hadapan kami. Ekspresinya terlihat sangat jelas. Entah nenek ini tidak mengerti dengan perkataan penjaga tadi atau nenek ini memang berada di bawah pengaruh minuman keras. Tapi wajahnya,,, oh wajahnya,, tanpa ekspresi seperti sedang duduk di kursi goyang. SUMPAH!! Gue khawatir nenek itu sudah pergi ke alam lain! Sedangkan Erlin berteriak girang bersama orang-orang lain. Dan gue pun udah gak peduli dengan keadaan sekitar dan ikut berteriak, “HENTIIIIKAAAAAAAAN IIIINNIIIIIII!!!!”.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Seperti sebuah mimpi buruk, akhirnya gue terbangun dari tidur dengan keringat <yang sebenarnya basah karena arung jeram> dan wajah yang pucat <karena pontang-panting, tornado dan permainan bodoh lainnya>. Sekarang kami berada di puncak tertinggi kawasan dufan—kicir-kicir, kami hanya berdua, menatap indahnya Pantai Ancol dengan langit lembayung sore.

Entah kenapa, di antara kami tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Sepertinya kami saling menyadari keadaan yang terjadi. Permainan yang sedang kami mainkan… ya mungkin kami hanya bermain-main dengan api, yang dapat saja membakar hati kami..

“Erlin…” gua coba memulai pembicaraan, walaupun dengan ragu. “kamu masih ingat tentang lembayung sore ini, langitnya sama-sama merah”

“ya, kau mengatakan sesuatu tentang Capucino” Erlin menjawab

”Capucino adalah kopi yang lembut dan indah, saking lembutnya, sangat nyaman untuk mencurahkan isi hati padanya.”, gw coba untuk mengingatnya.

“ada yang mau kamu katakan punk?”

Gw cuma bisa menatap diam mata Erlin, satu sisi Erlin hanyalah teman, hanya teman bagi gw, tapi satu sisi lain, gw sangat takut untuk kehilangan dia, gw mau dia selalu ada disisi gw. Suatu ke egoisan? Atau rasa sayang?

Kicir-kicir yang kami naiki sudah hampir berhenti. Erlin pun memecah keheningan yang kedua.

“Mungkin kamu butuh secangkir capucino punk,,, dan aku butuh lembayung sore,, kita orang yang berbeda”

“Tapi lin, bukan itu maksud gw…”

“Sudahlah punk, kita sudah kenal cukup lama, kita sama-sama sudah saling mengerti, dan sepertinya kita perlu berpisah untuk sementara, hanya sementara kuharap..”

“Yaa.. hanya sementara….” Aku pun melirih pelan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s